Cita-Cita dalam Hidup Saya

Pada masa kecil, saya tidak pernah tahu betul apa cita-cita saya setelah besar nanti. Banyak pertanyaan dari orang-orang yang gemas kepada saya, “Ade cita-citanya mau jadi apa?”. Jawaban saya tentu mengambil jawaban terbanyak dari teman-teman seumuran saya, bahwasanya saya ingin menjadi pilot, menjadi dokter, dll. Beda penanya, beda pula jawaban saya. Tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk menjadi apa yang saya kagumi, yang pasti saya berpikir bahwa setelah besar nanti saya ingin menjadi kaya dan saya memang akan kaya.

Masa demi masa saya lewati. Setelah menduduki bangku SMP, saya mulai belajar gitar hingga saya menjalani les privat di salah satu tempat kursus gitar yang tidak akan saya sebutkan merknya. Dari situ saya mengagumi para pemain gitar dan saya selalu membayangkan menjadi pemain gitar terkenal.

Pada masa SMA, saya mengikuti ekstrakurikuler teater di sekolah, hitung-hitung promosi juga namanya Teater Kabut. Di teater, saya belajar tentang drama, kabaret, melakoni berbagai peran dan semua yang membawa saya terpicu untuk menjadi seorang aktor. Akhirnya, pada masa itu saya memutuskan untuk bercita-cita menjadi seorang artis terkenal dan saya mengikuti beberapa casting meskipun tidak ada satu pun yang lolos.

Saat lulus kuliah, sebenarnya saya ingin memasuki jurusan Teater di kampus STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) atau jurusan Sastra Indonesia di kampus UPI (Universitas Pendidikan Indonesia). Namun, orang tua saya lebih ingin saya memasuki jurusan Ilmu Komputer UPI karena ia tahu peluang di jurusan ini dibanding jurusan-jurusan yang saya pilih. Pada akhirnya saya memutuskan untuk mengambil jurusan Ilmu Komputer tercinta.

Menjalani kuliah beberapa semester di Ilmu Komputer, saya mulai menyukai pemrograman, membangun kode program, menuangkan ide-ide dalam sebuah aplikasi. Dari kesenangan saya dalam membuat program, saya mulai bercita-cita untuk menjadi seorang programmer, bekerja di perusahaan besar, diangkat menjadi seorang pimpinan, membuat inovasi baru di perusahaan tersebut dan dikenal banyak orang karena inovasi menarik yang membuat perusahaan semakin berkembang.

Baru-baru ini (sejak setahun yang lalu), saya berpikir bahwa tidak selamanya saya akan bekerja dan mendapat gaji. Saya mulai memikirkan masa depan yang sangat panjang di mana usia saya akan menjadi tua dan tidak akan ada lagi yang membutuhkan jasa saya. Hingga pada akhirnya saya memilih untuk tidak terlalu menggantungkan hidup saya pada orang lain, saya memulai usaha, dengan harapan usaha itu menjadi sebuah bisnis yang berkembang yang dapat menunjang kehidupan saya sehari-hari, memiliki nama yang besar dan syukur saja bila nama dari bisnis saya dapat dikenal oleh banyak orang. Meskipun bukan passion saya di bidang ini, tetapi saya bertekad untuk menjalankan sebuah bisnis, dan alhamdulillah beberapa usaha sudah saya coba dari mulai berjualan keripik hingga sekarang membuat konveksi kecil.

Terlepas dari itu, saya mulai sadar bahwa dalam setiap cita-cita yang ingin saya capai, mungkin saya ingin menjadi terkenal dari mana pun jalannya. Berbagai bidang saya tekuni untuk menjadi terkenal dan memang sampai saat ini, saya senang jika saya dikenal banyak orang.

Namun kenyataannya, beberapa orang terdekat saya tidak setuju jika saya menjadi terkenal entah apa alasannya. Saya ingin menghargai pendapat orang-orang di sekitar saya dengan mencoba untuk tidak terlalu berambisi menjadi terkenal. Tidak masalah bagi saya, yang penting tujuan utama dalam hidup saya adalah memiliki karir yang baik dengan bisnis sebagai penunjang sekunder dan saya menjadi kaya agar memiliki keluarga serta keturunan yang sakinah, mawaddah dan warahmah.

Leave a Reply to Anonymous Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *